Friday, March 30, 2012

Jangan Makan Api Neraka!!!

Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim, sadar atau tidak sadar mereka terseret ke dalam arusnya. Sehingga dijumpai banyak orang menyatakan: “Yang haram aja susah apalagi yang halal.” Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Alloh. Padahal Alloh dan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dengan sangat tandas sekali bahwa Alloh akan mencukupkan rizki mereka dan tidak membebankan hal itu kepada pundak mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Alloh-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ankabut: 60)
Alloh sebagai pemberi rizki kepada semua makhluknya, lalu Ia mengutus Rasulullah untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk dan jelek bagi manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَُ
 
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al a’raf:157)
Setelah mengetahui yang dihalalkan Alloh adalah semua yang baik dan sebaliknya yang diharamkan semuanya pasti buruk, apalagi yang menjadi halangan menghindari yang haram dan hanya mengambil yang halal saja? Tinggal kita laksanakan saja perintah Alloh untuk memakan yang halal dan baik dan tidak mengikuti jejak dan ajakan syeitan yang mengajak kepada keburukan dan kesengsaraan. Karena hal ini merupakan wujud syukur kita kepada Alloh yang telah memberikan rizki-Nya yang luas dan banyak. Sebagaimana dijelaskan Alloh dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
ُ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar hanya kepada Alloh kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah:172)
Apabila kita bersyukur, Alloh akan menambah anugerah-Nya. Jangan sekali-kali kita ingkar terhadap nikmat Alloh dan melampaui batas, sebab jika kita ingkar terhadap nikmat Alloh maka kebinasaan ada di hadapan kita.
Seorang musafir, berhenti disebuah masjid pimpinan seorang ustadz selama beberapa minggu untuk mengikuti pengajian rutin sang ustadz, sekaligus agar dapat beribadah secara istiqamah di masjid tersebut. Biasanya, setiap hari selalu ada saja yang memberikan dia sedekah dan mengantarkan makanan, baik dari keluarga sang ustadz maupun dari masyarakat sekitar. Sebab dalam pandangan Islam, memberikan sedekah meski sekedar seteguk air minum kepada mereka yang sedang dalam perjalanan, memiliki pahala yang sangat besar, apalagi lebih dari seteguk air.
Hingga pada suatu hari, tak ada seorang pun yang datang mengantarkan makanan atau memberinya sedekah. Ia pun merasakan kepalaran yang teramat sangat. Tak hanya hari itu, bahkan hingga beberapa hari sesudahnya, tak ada orang yang mendatanginya untuk mengajaknya makan atau memberinya makanan sebagaimana biasanya. Sebagai umat beriman, musafir itu tetap berusaha sabar dan tabah.
Ketika perutnya benar-benar pada puncak kelaparannya, ia pun bergumam dalam hati, ”jika sudah didalam keadaan benar-benar lapar seperti ini, berarti sudah masuk kategori darurat.” didalam keadaan seperti ini, sesuatu yang asalnya haram pun bisa menjadi halal dengan catatan hanya untuk sekedar untuk menyambung hidup. Ia pun berusaha mencari makanan diluar masjid. Ia berjalan menelusuri lorong-lorang sekitar masjid. Ia terus berjalan mndekati rumah-rumah penduduk, hingga sampai pada sebuah rumah yang kelihatannya kosong. Ia pun masuk rumah tersebut, disana ia menyaksikan harta_isi ramah_yang begitu banyak, tapi ia benar-benar tidak tertarik karena yang dicari adalah makanan, ia pun langsung menuju dapur dimana biasanya makanan disimpan disana.
Di dapur ia mendapatkan bejana berisi daging yang baru saja dimasak. Ia pun benar-benar berselera memakannya. Tetapi begitu daging yang ia genggam mendekati mulutnya, ia pun segera teringat azab Alloh swt. Ia teringat sebuah kata ”Jangan Makan Api Neraka”. Akhirnya ia tidak jadi mengambil makanan dari rumah tersebut, dan ia pun bergegas meninggalkan rumah kosong tersebut dan terus kembali ke masjid dengan perasaan lapar yang begitu membuncah.
Sore harinya, seusai pengajian ba’da ashar di masjid tersbut, ada seorang setengah baya datang mendekati sang ustadz. Bersama anak perempuannya, orang tua tersebut rupanya sedang mencari seorang laki-laki shaleh untuk dinikahkan dengan putri semata wayangnya yang beberapa bulan lalu ditinggal mati suaminya.
Pandangan mata sang ustadz langsung tertuju kepada pemuda musafir tadi. Kemudian pemuda tersebut dipanggil. Ia ditanya apakah sudah punya isteri atau belum? Sang pemuda menjawab “belum” ia pun segera ditawari untuk menikah. Tapi sang pemuda menjawab ”Ustadz, gimana mau nikah, sedangkan untuk makan sendiri saja susah”. Orangtua dan anak perempuan tersebut tidak mencari laki-laki kaya. Mereka hanya perlu laki-laki yang shaleh, sebab harta yang banyak sudah mereka miliki, lalu apalagi yang dicari? Akhirnya mereka pun setuju memilih musafir shaleh tersebut, dan langsung dinikahkan kala itu juga.
Setelah akad nikah, sang musafir itu pun langsung diajak kerumah sang perempuan, yang ternyata adalah rumah dimana ia tadi hendak mencuri makanan berupa daging matang yang kemudian digagalkannya.
Subhanallah, rupanya niat baik untuk menjaga diri sendiri dari makanan yang diharamkan, niat baik untuk menghindar dari api neraka, Alloh swt menjawab dan membalasnya dengan dikaruniai seorang istri (tanpa susah payah mencarinya). Dan selesai sampai disana, melainkan ia juga memperoleh harta yang banyak, karena istrinya adalah orang yang yang kaya.
Semoga kita bisa mengambil ibrahnya, dan semoga kita dijauhkan dari api neraka, amiin.

0 comments:

Post a Comment

aaaaaa