Era globalisasi banyak berpengaruh pada kehidupan seorang muslim,
sadar atau tidak sadar mereka terseret ke dalam arusnya. Sehingga
dijumpai banyak orang menyatakan: “Yang haram aja susah apalagi yang
halal.” Satu ungkapan yang menggambarkan rendahnya kondisi keimanan dan
keyakinan mereka terhadap rahmat dan rizki Alloh. Padahal Alloh dan
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dengan sangat
tandas sekali bahwa Alloh akan mencukupkan rizki mereka dan tidak
membebankan hal itu kepada pundak mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam
firmanNya:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Alloh-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ankabut: 60)
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri.Alloh-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ankabut: 60)
Alloh sebagai pemberi rizki kepada semua makhluknya, lalu Ia mengutus
Rasulullah untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang
buruk dan jelek bagi manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَُ
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْأِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَُ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di
sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang
mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala
yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang
dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka
orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan
mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an),
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al a’raf:157)
Setelah mengetahui yang dihalalkan Alloh adalah semua yang baik dan
sebaliknya yang diharamkan semuanya pasti buruk, apalagi yang menjadi
halangan menghindari yang haram dan hanya mengambil yang halal saja?
Tinggal kita laksanakan saja perintah Alloh untuk memakan yang halal dan
baik dan tidak mengikuti jejak dan ajakan syeitan yang mengajak kepada
keburukan dan kesengsaraan. Karena hal ini merupakan wujud syukur kita
kepada Alloh yang telah memberikan rizki-Nya yang luas dan banyak.
Sebagaimana dijelaskan Alloh dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
ُ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar hanya kepada Alloh kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah:172)
Apabila kita bersyukur, Alloh akan menambah anugerah-Nya. Jangan sekali-kali kita ingkar terhadap nikmat Alloh dan melampaui batas, sebab jika kita ingkar terhadap nikmat Alloh maka kebinasaan ada di hadapan kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
ُ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar hanya kepada Alloh kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah:172)
Apabila kita bersyukur, Alloh akan menambah anugerah-Nya. Jangan sekali-kali kita ingkar terhadap nikmat Alloh dan melampaui batas, sebab jika kita ingkar terhadap nikmat Alloh maka kebinasaan ada di hadapan kita.
Seorang musafir, berhenti disebuah masjid pimpinan seorang ustadz
selama beberapa minggu untuk mengikuti pengajian rutin sang ustadz,
sekaligus agar dapat beribadah secara istiqamah di masjid tersebut.
Biasanya, setiap hari selalu ada saja yang memberikan dia sedekah dan
mengantarkan makanan, baik dari keluarga sang ustadz maupun dari
masyarakat sekitar. Sebab dalam pandangan Islam, memberikan sedekah
meski sekedar seteguk air minum kepada mereka yang sedang dalam
perjalanan, memiliki pahala yang sangat besar, apalagi lebih dari
seteguk air.
Hingga pada suatu hari, tak ada seorang pun yang datang mengantarkan
makanan atau memberinya sedekah. Ia pun merasakan kepalaran yang teramat
sangat. Tak hanya hari itu, bahkan hingga beberapa hari sesudahnya, tak
ada orang yang mendatanginya untuk mengajaknya makan atau memberinya
makanan sebagaimana biasanya. Sebagai umat beriman, musafir itu tetap
berusaha sabar dan tabah.
Ketika perutnya benar-benar pada puncak kelaparannya, ia pun bergumam dalam hati, ”jika sudah didalam keadaan benar-benar lapar seperti ini, berarti sudah masuk kategori darurat.”
didalam keadaan seperti ini, sesuatu yang asalnya haram pun bisa
menjadi halal dengan catatan hanya untuk sekedar untuk menyambung hidup.
Ia pun berusaha mencari makanan diluar masjid. Ia berjalan menelusuri
lorong-lorang sekitar masjid. Ia terus berjalan mndekati rumah-rumah
penduduk, hingga sampai pada sebuah rumah yang kelihatannya kosong. Ia
pun masuk rumah tersebut, disana ia menyaksikan harta_isi ramah_yang
begitu banyak, tapi ia benar-benar tidak tertarik karena yang dicari
adalah makanan, ia pun langsung menuju dapur dimana biasanya makanan
disimpan disana.
Di dapur ia mendapatkan bejana berisi daging yang baru saja dimasak.
Ia pun benar-benar berselera memakannya. Tetapi begitu daging yang ia
genggam mendekati mulutnya, ia pun segera teringat azab Alloh swt. Ia
teringat sebuah kata ”Jangan Makan Api Neraka”.
Akhirnya ia tidak jadi mengambil makanan dari rumah tersebut, dan ia
pun bergegas meninggalkan rumah kosong tersebut dan terus kembali ke
masjid dengan perasaan lapar yang begitu membuncah.
Sore harinya, seusai pengajian ba’da ashar di masjid tersbut, ada
seorang setengah baya datang mendekati sang ustadz. Bersama anak
perempuannya, orang tua tersebut rupanya sedang mencari seorang
laki-laki shaleh untuk dinikahkan dengan putri semata wayangnya yang
beberapa bulan lalu ditinggal mati suaminya.
Pandangan mata sang ustadz langsung tertuju kepada pemuda musafir
tadi. Kemudian pemuda tersebut dipanggil. Ia ditanya apakah sudah punya
isteri atau belum? Sang pemuda menjawab “belum” ia pun segera ditawari
untuk menikah. Tapi sang pemuda menjawab ”Ustadz, gimana mau nikah, sedangkan untuk makan sendiri saja susah”.
Orangtua dan anak perempuan tersebut tidak mencari laki-laki kaya.
Mereka hanya perlu laki-laki yang shaleh, sebab harta yang banyak sudah
mereka miliki, lalu apalagi yang dicari? Akhirnya mereka pun setuju
memilih musafir shaleh tersebut, dan langsung dinikahkan kala itu juga.
Setelah akad nikah, sang musafir itu pun langsung diajak kerumah sang
perempuan, yang ternyata adalah rumah dimana ia tadi hendak mencuri
makanan berupa daging matang yang kemudian digagalkannya.
Subhanallah, rupanya niat baik untuk menjaga diri sendiri dari
makanan yang diharamkan, niat baik untuk menghindar dari api neraka,
Alloh swt menjawab dan membalasnya dengan dikaruniai seorang istri
(tanpa susah payah mencarinya). Dan selesai sampai disana, melainkan ia
juga memperoleh harta yang banyak, karena istrinya adalah orang yang
yang kaya.
Semoga kita bisa mengambil ibrahnya, dan semoga kita dijauhkan dari api neraka, amiin.
Sumber: http://ustadzkholid.com






0 comments:
Post a Comment
aaaaaa