ILMU NUJUM (ILMU PERBINTANGAN)
Munajjim (ahli nujum juga termasuk dalam katagori peramal menurut apa yang diistilahkan oleh sebagian ulama 2. Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani, ia berkata :
صلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
صلاة الصبح بالحديبية على إثر سماء كانت من الليلة فلما انصرف أقبل على
الناس فقال هل تدرون ماذا قال ربكم قالوا الله ورسوله أعلم قال أصبح من
عبادي مؤمن وكافر فأما من قال مطرنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي وكافر
بالكوكب وأما من قال بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي ومؤمن بالكوكب
”Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengimami kami
shalat Shubuh di Hudaibiyyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika usai
shalat, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam berbalik menghadap kepada
para shahabat radliyallaahu ‘anhum lantas bersabda : ‘Tahukah kalian apa
yang difirmankan Rabb kalian ?’. Para shahabat menjawab : ‘Allah dan
Rasul-Nya yang lebih mengetahui’. Allah berfirman : ‘Di kala pagi ini,
diantara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir’.
Adapun orang yang mengatakan : ‘Telah turun hujan kepada kita berkat
karunia dan rahmat Allah’, ia telah beriman kepada-Ku dan kafir terhadap
bintang-bintang. Sedangkan orang-orang yang berkata : ‘Telah turun
hujan kepada kita karena bintang ini dan bintang itu, maka ia kafir
kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang’” 3
Imam Bukhari berkata di dalam kitab Shahihnya : Qatadah berkata : “Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal :
1. Sebagai penghias langit
2. Sebagai pelempar syaithan
3. Dan sebagai tanda bagi orang yang untuk mengenali arah.
Maka barangsiapa menafsirkan selain itu, ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya dan memaksakan diri dalam sesuatu yang ia tidak mengetahuinya”.4
1. Sebagai penghias langit
2. Sebagai pelempar syaithan
3. Dan sebagai tanda bagi orang yang untuk mengenali arah.
Maka barangsiapa menafsirkan selain itu, ia telah salah dan menyia-nyiakan bagiannya dan memaksakan diri dalam sesuatu yang ia tidak mengetahuinya”.4
Ilmu Nujum ada dua macam : 5
Pertama : ‘Ilmu At-Ta’tsiir, yaitu ilmu
nujum yang meyakini bahwa bintang-bintang mempunyai pengaruh terhadap
keadaan alam semesta. Ilmu ini termasuk syirik dan bukan termasuk ilmu
yang bermanfaat. Penjelasan yang lainnya tentang definisi ilmu at-ta’tsiir
yaitu menjadikan keadaan bintang, planet, dan benda angkasa lainnya
sebagai dasart penentuan berbagai peristiwa di bumi, baik sebagai
sesuatu yang berpengaruh mutlak maupun hanya sebagai isyarat yang
menyertai peristiwa-peristiwa bumi. Jika dia percaya bahwa keadaan itu
adalah faktor yang berpengaruh mutlak atas peristiwa-peristiwa bumi –
dengan tidak membedakan baik karena kekuatan internalnya maupun karena
izin Allah – maka ia dinyatakan musyrik dengan tingkatan syirik besar
dan telah keluar dariIslam. Tetapi jika ia percaya bahwa keadaan itu
hanya merupakan isyarat yang menyertai peristiwa-peristiwa bumi, maka ia
dinyatakan sebagai musyrik dengan tingkatan syirik kecil yang
bertentangan dengan kesempurnaan tauhid. Perbintangan tidak berpengaruh
terhadap peristiwa-peristiwa yang ada di bumi. Anggapan tentang
perbintangan berpengaruh terhadap peristiwa-peristiwa di bumi adalah
termasuk berkata sesuatu atas Nama Allah ta’ala tanpa ilmu.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
من اقتبس علما من النجوم اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد
”Barangsiapa mempelajari satu cabang dari ilmu nujum, maka
sesungguhnya ia telah mengambil satu bagian dari ilmu sihir, semakin
bertambah (ilmu yang ia pelajari), semakin bertambah pula (dosanya)” 6
Kedua : ‘Ilmu At-Tas-yiir, yaitu ilmu Nujum
yang tujuannya untuk memudahkan arah tujuan dalam perjalanan dan
kemaslahatan agama. Penjelasan yang lainnya tentang definisi ilmu at-tas-yiir
yaitu menjadikan keadaan bintang dan benda angkasa sebagai petunjuk
penentuan arah mata angin dan letak geografis suatu negara dan
semacamnya. Jenis ini dibolehkan dalam Islam. Dari sinilah munculnya Hisab Takwim
(penanggalan), pengetahuan tentang akhir musim dingin dan panas,
waktu-waktu pembuahan (tumbuhan dan hewan), kondisi cuaca, hujan,
penyebaran wabah penyakit dan semacamnya.
dan penjelasan tentang point no 2 yang berisi “Sebagai pelempar syaithan”
adalah
Pelempar syaithan itu adalah syihab, sebagaimana firman Allah :
إِنّا زَيّنّا السّمَآءَ الدّنْيَا
بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ * وَحِفْظاً مّن كُلّ شَيْطَانٍ مّارِدٍ * لاّ
يَسّمّعُونَ إِلَىَ الْمَلإِ الأعْلَىَ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلّ جَانِبٍ *
دُحُوراً وَلَهُمْ عَذابٌ وَاصِبٌ * إِلاّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ
فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
“Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan
hiasan, yaitu bintang-bintang. Dan telah memeliharanya dari
syaithan-syaithan yang durhaka. Syaithan-syaithan itu tidak dapat
memperdengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat, dan mereka dilempari
dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang
kekal, akan tetapi barangsiapa (diantara mereka) yang mencuri-curi
(pembicaraan) maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang” [Ash-Saffaat : 6-10]
Dan firmanNya :
وَلَقَدْ زَيّنّا السّمَآءَ الدّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لّلشّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السّعِيرِ
“Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan
bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat
pelempar syaithan, dan kami sediakan bagi mereka siksa yang
menyala-nyala” [Al-Mulk : 5]
Sumber : http://muslimstory.wordpress.com
Sumber : http://muslimstory.wordpress.com






0 comments:
Post a Comment
aaaaaa